Archive for September 2, 2008
Environmental Security – Perubahan iklim dan Indonesia
I.Definisi Keamanan
Sebelum memulai semuanya, sebaiknya kita mengetahui lebih lanjut apa sebenarnya definisi dari keamanan. Lalu apa hubungannya antara keamanan dan lingkungan.
Pada masa sebelum PD2 konsep keamanan hanya mengacu pada kekuatan militer. Pada saat itu manusia masih melihat bahwa ancaman datang dari Negara atau bangsa yang memiliki kekuatan militer terkuat. Namun, pasca PD2 konsep keamanan mengalami pengembangan arti. Ancaman tidak hanya dari kekuatan militer tapi juga datang dari sector ekonomi, budaya, iptek, social, kesehatan, lingkungan, dll.
Pada tahun 1977, Lester R. Brown dari institute WorldWatch menyatakan bahwa pengurangan sumber daya alam dan degradasi lingkungan adalah isu global yang sangat penting untuk diperhatikan dan telah mendefinisikan kembali arti dari keamanan nasional.[1]
Pendapat Brown di atas secara tidak langsung memberitahu kita bahwa konsep keamanan telah mengalami perkembangan arti. Saat ini kita tidak hanya diancam oleh kekuatan militer. Semua sekarang menjadi lebih kompleks.
II.Menghubungkan Keamanan dan Lingkungan
Mengapa perubahan lingkungan dapat menjadi konsep atau kajian yang disatukan dengan keamanan, telah saya jelaskan di atas. Banyak peristiwa khususnya mengenai perubahan iklim yang telah menjadi permasalah global. Tadinya manusia berpikir bahwa jika daerah Jakarta saja yang mengalami polusi maka itu adalah resiko masyarakat Jakarta saja, namun tidak begitu. Keadaan tidak ramah lingkungan yang terjadi di Jakarta telah merusak lingkungan. Lingkungan sendiri adalah unsure yang abstrak. Lingkungan adalah sebuah dimensi ruang yang kita tinggal dan hidup di dalamnya. Tentu saja jika terjadi kerusakan di dalamnya maka seluruh mausia yang hidup di dalamnya akan terkena dampaknya. Jadi tidak hanya Jakarta, tapi dunia. Tidak heran saat terjadi banyak penebangan liar di hutan Indonesia pihak yang paling agresif melawannya bukanlah masyarakat Indonesia, tapi masyarakat internasional yang peduli dengan alam –biasanya NGO’s yang berurusan dengan pelestarian alam.
Jika Barry Buzan mengatakan bahwa sangat sulit mendefinisikan keamanan dengan alasan bahwa keamanan itu relative, keamanan untuk siapa, siapa yang merasa terancam? Seperti analoginya tentang keamanan dan ancaman itu relative, ada komet yang jatuh ke bumi namun yang menganggap hal tersebut ancaman adalah orang-orang yang tinggal di daerah jatuhnya komet itu. Seorang petani yang melihatnya dari kejauhan mungkin malah akan menganggapnya sebagai hiburan semata di langit.
Keamanan lingkungan bagi saya telah menepis anggapan itu. Ancaman dari perubahan iklim ternyata mengancam kita semua. Pada awalnya orang-orang liberal-kapitalis hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya dang menganggap bahwa kerusakan lingkungan hanyalah resiko dari kemajuan dunia.
Berbeda dengan kaum kapitalis-environmentalist yang menyatakan bahwa keuntungan sebesar-besarnya adalah tidak hanya mendapatkan keuntungan secara ekonomi tapi juga memberikan keuntungan sebesar-besarnya kepada lingkungan.[2] Contoh dari gerakan ini adalah dengan banyaknya perusahaan yang semakin perduli dengan alam dan lingkungan; carefour dengan kebijakannya menggunakan satu tas plastik besar untuk membawa belanjaan yang dapat digunakan beribu-ribu kali. Toyota dan Honda dengan kendaraan hybrid nya.
III.Fakta Tentang Perubahan Iklim Sebagai Ancaman
“Perusakan lingkungan dan polusi oleh manusia mungkin kurang dirasakan dampaknya saat ini. Padahal secara pelahan namun pasti, suhu Bumi menjadi naik. Es di kutub meleleh dan permukaan air laut menenggelamkan sebagian besar daratan, termasuk sebagian besar pulau di Indonesia. Lebih ngeri lagi, perubahan iklim yang tak tertahankan akan membinasakan makhluk hidup di Bumi ini.”[3]
Iklim dunia dipengaruhi oleh banyak factor, sebagian besar oleh besarnya energy yang datang dari matahari, tetapi tidak hanya itu, efek rumah kaca dan aerosol yang terdapat di atmosfer membuat energy solar yang seharusnya memancar ke permukaan bumi malah terefleksikan kembali ke luar angkasa.[4]
Pemanasan iklim global saat ini menjadi sesuatu yang patut diperhatikan. Banyak observasi mengenai peningkatan temperature udara dan air laut, pencairan salju dan es yang semakin meluas, dan kenaikan permukaan laut.
Lebih spesifik lagi, sebelas dari dua belas tahun (1995-2006) urutan diantara 12 tahun terpanas yang pernah dicatat sejak peningkatan temperature global pada tahun 1850. Melewati 100 tahun terakhir (1906-2005), temperature global telah meningkat 0.74°C. kenaikan permukaan airlaut secara global telah meningkat 17cm selama 20 abad. Hal ini disebabkan oleh pencairan salju dan es di beberapa pegunungan dan mencairnya es di daerah kutub. Kenaikan suhu diperkirakan akan mempermudah terjadinya badai tropis.[5]
Faktor Penyebab Perubahan Iklim[6]
Penyebab utama pemanasan suhu udara ini terutama akibat bercampurnya karbondioksida (CO2) dengan sulfur dioksida (SO2). Penyebab kedua adalah segala senyawa freon – gas yang dipakai dalam lemari es dan AC. Karbondioksida (CO2) bersama gas-gas lain menyebabkan efek rumah kaca.
Secara global setiap tahun 23 juta ton gas-gas tadi dilepas ke atmosfer. Jumlah ini cukup untuk menutupi seluruh Jawa Timur dengan lapisan tebal yang mematikan semua. Sebagian besar polutan berasal dari pabrik, tetapi tidak sedikit yang dilepaskan oleh pesawat terbang dan kendaraan bermotor. Inilah efek tak terduga kemajuan industrialisasi.
Dua penghasil terbesar adalah Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Cina (RRC). Keduanya memproduksi 8.234.000 ton per tahun. Sisanya sekitar 14,5 juta ton, berasal dari negara-negara lain. Sayangnya, tidak tercatat berapa besar andil Indonesia dalam polusi udara global. Meski industrialisasi di Tanah Air kita belum berarti, kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan selama berbulan-bulan pasti memberi andil tidak sedikit.
Polusi udara oleh asap produk kebakaran membentuk lapisan di udara, sehingga panas Bumi tidak mungkin terpencar ke stratosfer di malam hari.
Di atmosfer campuran sulfurdioksida, karbondioksida, dan air yang berbentuk awan bereaksi satu dengan yang lain akan menghasilkan hujan asam. Jenis hujan ini telah memusnahkan ribuan hektar hutan pinus di hemisfer (belahan Bumi) utara.
Belum lagi gas-gas industri yang bersama freon merusak lapisan ozon, pelindung Bumi kita. Lapisan ozon memantulkan sebagian panas matahari ke ruang angkasa dan menyaring sebagian sinar ultraviolet, yang dalam jumlah besar dapat menyebabkan kanker kulit, bahkan mematikan organisme hidup.
Saat ini, lapisan ozon telah menipis, malah di daerah Kutub Selatan telah berlubang. Akibatnya, kelebihan panas Matahari mencapai Bumi dan menaikkan suhu udara. Jika polusi udara tidak berubah sampai tahun 2100 dan seterusnya, suhu udara atmosfer tetap naik dengan bertambah 3,5oC.
Tabel 1
Negara Paling Mencemari Udara dengan Karbondioksida
|
Negara |
Juta Ton |
Perjanjian Reduksi |
|
AS |
5,228 |
-3% |
|
RRC |
3,006 |
|
|
Rusia |
1,547 |
-5% |
|
Jepang |
1,150 |
-4,5% |
|
Jerman |
1,150 |
-8% |
|
India |
0,884 |
|
|
Britania Raya |
0,564 |
-8% |
|
Kanada |
0,470 |
-5% |
|
Ukraina |
0,430 |
-5% |
|
Italia |
0,423 |
-8% |
|
Prancis |
0,362 |
-8% |
|
Korea Selatan |
0,353 |
|
|
Polandia |
0,336 |
-8% |
|
Meksiko |
0,327 |
|
|
Afrika Selatan |
0,320 |
|
Ancaman Perubahan Iklim Terhadap Indonesia
Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki banyak laut di dalamnya. Tidak hanya kaya akan lautnya, Indonesia juga kaya akan sumberdaya alam seperti migas dan non-migas, flora dan fauna, serta kekayaan hutan. Pada tahun 1970-an permukaan Indonesia masih hijau dibalut oleh hutan hujan yang rimbun. Indonesia menjadi paru-paru dunia bersama Afrika, dan Amerika Selatan (hutan Amazon). Namun saat ini semua itu berubah.
Selain membuat kita berkeringat lebih hebat, efek rumah kaca juga menyebabkan menyusutnya gletser di pegunungan tinggi serta lapisan es di dua kutub. Akibatnya, makin banyak air mengalir ke laut. Permukaan laut pun naik dan naik terus. Kalau proses ini mencapai beberapa meter saja, bisa terjadi efek fatal pada berbagai daerah dataran rendah, terutama yang dekat laut. Florida dan Louisiana di AS akan tenggelam ditelan laut. Semua kepulauan di Pasifik Selatan juga akan hilang di bawah air.[7]
Bagaimana dengan Indonesia? Daerah pantai yang letaknya agak rendah, pasti bernasib serupa. Cukup banyak bagian pantai utara Jawa akan kena musibah ini. Pulau Seribu dan sebagian besar pulau-pulau kecil pun akan tinggal nama. Nasib serupa akan dialami oleh Jakarta, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo. Pelabuhan Tanjung Priok mungkin akan berpindah letak dekat Bogor, dan Tanjung Perak berpindah ke Mojokerto atau Nganjuk. Wilayah Sumatera akan menyusut sepertiga, karena seluruh pantai timur hilang tertelan air laut. Demikian juga Pulau Bangka, Batam, dan Singapura akan terendam dalam air laut. Nasib sama menimpa Kalimantan Selatan, sebagian Bali, dan sebagian besar Lombok. Pulau Sumbawa mungkin akan terbagi menjadi dua. Daerah suku Asmat di Irian Jaya pasti tenggelam paling cepat. Bagaimana nasib Pulau Komodo? Indonesia tidak akan terdiri dari tujuh belasan ribu, tapi hanya dua atau tiga ribu pulau.[8]
Bisakah Indonesia mempromosikan pariwisata jika sebagian besar objek wisatanya lenyap oleh air bah raksasa itu? Bayangkan pula betapa sedihnya bila banyak tanah subur musnah. Meski banyak es mencair, sehingga permukaan laut secara global akan naik begitu tinggi, namun suhu udara akan makin panas sehingga terjadi proses desertisasi, meluasnya padang gurun. Kehancuran vegetasi hutan tropis, yang kian hebat, lambat laun berakibat makin banyak daerah menjadi padang pasir di seluruh Bumi.
Para ahli biologi laut dari Brisbane, Australia, mengumumkan, jika pemanasan global tidak turun, terumbu karang di lautan akan musnah. Jika dipertahankan pada keadaan dewasa ini, di tahun 2100 semua terumbu karang akan hilang. Terumbu karang perlu 500 tahun untuk beregenerasi.[9]
WWF sudah memperingatkan Indonesia bahwa dampak pemanasan global sudah terjadi di Indonesia dan akan semakin memburuk. Indonesia saat ini menjadi Negara ke-empat terbesar dengan pengurangan hutan hujannya sebanyak 2 sampai 3%. Kombinasi dari kenaikan populasi manusia Indonesia dan berkurangnya populasi hutan hujan di Indonesia serta meningkatnya polusi dan perusakan lingkungan ditambah keadaan Indonesia yang memiliki 80.000km garis pantai dan sekitar 17.500 pulau membuat Indonesia akan menjadi Negara yang paling merasakan dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim dunia.[10]
Berdasarkan review dari WWF yang menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan selama musim hujan akan beresiko banjir bandang, seperti banjir di Jakarta pada Februari 2007 yang telah membunuh lebih dari 65 penduduk Jakarta, dengan kerugian ekonomi sebesar 450 juta dollar AS.[11]
Melihat fakta di atas keadaan di Indonesia memang akan semakin memburuk jika Indonesia tidak melakukan usaha apapun. Gelombang panas akan bertambah dan meningkat, banjir, dan perubahan iklim secara ekstrim, serta bencana alam akan berakibat pada peningkatan tingkat kecelakaan, penyakit, dan kematian. Malaria akan meningkat begitu juiga dengan penyakit-penyakit menular lainnya. Bahkan akan banyak wabah penyakit baru seperti Flu Burung, SARS, dll.
Pemerintah Indonesia harus perduli dengan masalah ini. Sebenarnya bukan hanya pemerintah yang harus perduli dengan masalah ini, namun juga masyarakat Indonesia yang seharusnya sadar bahwa global warming adalah ancaman untuk Indonesia dan sekaligus menjadi kepentingan nasional yang harus diperjuangkan untuk menjaga keamanan nasional bangsa Indonesia.
Recent Comments